Emisi Surat Utang Pemerintah Tahun Lalu Rp 713 T, 2023 Lebih Atraktif

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebutkan total emisi surat utang pemerintah sepanjang 2022 mencapai Rp 713 triliun. Angka tersebut berpotensi lebih tinggi bila menambahkan penerbitan surat utang untuk membiayai yang jatuh tempo atau buyback.

“Sebagai gambaran, pada tahun 2022 emisi surat utang secara neto sebesar Rp 712 triliun. Namun, secara gross berdasarkan realisasi per 20 Desember, pemerintah telah menerbitkan surat utang Rp 925,04 triliun, terdiri dari Rp 542,96 triliun surat utang konvensional dan Rp 286,66 triliun sukuk,” kata Fixed Income Analyst Ahmad Nasrudin kepada Investor Daily.

Ia memproyeksikan, lelang pada tahun 2023 diperkirakan relatif serupa karena memang target surat utang yang diterbitkan mirip secara nominal. Pemerintah diperkirakan akan menerbitkan lebih banyak di awal tahun (front loading) sebagaimana tahun sebelum. “Namun, saya melihat ada tantangan di tahun ini terutama dari sisi permintaan. Bank Indonesia (BI) tidak lagi membeli di pasar primer karena skema burden sharing berakhir, sehingga, permintaan akan mengandalkan serapan dari investor domestik dan asing,” ujarnya.

Ahmad melanjutkan, pasar surat utang pemerintah akan menarik di tahun 2023 dibandingkan semester kedua 2022. Kupon surat utang pemerintah diperkirakan tetap tinggi karena lingkungan suku bunga lebih tinggi. Selain itu, berakhirnya siklus kenaikan agresif suku bunga menurunkan potensi risiko koreksi tajam pasar surat utang, tidak seperti di semester kedua 2022. “Bahkan kalau kita lihat, asing kembali bersedia masuk karena mereka percaya harga saat ini (sebenarnya di akhir Oktober) adalah titik terendah dan mereka mulai memborong surat utang pemerintah. Faktor-faktor ini membuat pasar surat utang menarik di tahun 2023,” kata dia.

Penawaran masuk berpotensi Rp 50 triliun
Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah menggelar lelang perdana pada 3 Januari 2023 lalu dengan menawarkan tujuh seri yang terdiri dari SPN03230405 (new issuance), SPN12240104 (new issuance), FR0095 (reopening), FR0096 (reopening), FR0098 (reopening), FR0097 (reopening), dan FR0089 (reopening). Pemerintah juga menetapkan target indikatif senilai Rp 23 triliun dan target maksimal senilai Rp 34,5 triliun.

Dalam lelang kali ini, domestik diperkirakan kembali dominan sejalan likuiditas dalam negeri terutama sektor perbankan yang masih tinggi. Meski demikian, tahun ini investor asing diperkirakan turut meramaikan lelang dengan potensi peningkatan kepemilikan lebih tinggi dari 2022.

Peningkatan kepemilikan asing akan terlihat sejak awal tahun 2022. Namun demikian, arus dana masuk yang besar akan masuk pada semester dua 2023 saat The Fed mulai menurunkan tingkat suku bunga.

Seri dengan tenor 10 tahun akan jadi primadona lantaran menjadi benchmark. Sedangkan imbal hasil untuk tenor 10 tahun diperkirakan akan bergerak pada level 6,8%.