FFR 2023 Diperkirakan Masih Tinggi, Wall Street Melemah

Wall Street ditutup melemah. Investor mencerna keputusan kenaikan suku bunga terbaru Federal Reserve dalam upayanya untuk menekan inflasi.

Dow Jones Industrial Average turun 142,29 poin atau 0,42% menjadi 33.966,35. S&P 500 turun 0,61% menjadi 3.995,32. Nasdaq Composite turun 0,76% menjadi 11.170,89.

Indeks-indeks acuan utama mencapai posisi terendah sesi setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan lebih banyak data diperlukan sebelum bank sentral mengubah pandangannya tentang inflasi secara signifikan. Dow turun sebanyak 404,47 poin, setelah naik 287,01 poin pada hari sebelumnya.

“Data inflasi yang diterima sejauh ini untuk bulan Oktober dan November menunjukkan penurunan yang disambut baik dalam laju kenaikan harga bulanan. Tetapi akan membutuhkan lebih banyak bukti untuk memberikan keyakinan bahwa inflasi berada di jalur penurunan yang berkelanjutan,” kata Powell.

Sesuai prediksi, the Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya (FFR) setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) pada Rabu (14/12/2022). Kenaikan tersebut merupakan level tertinggi dalam 15 tahun terakhir dan menunjukkan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir meskipun ada beberapa tanda yang menjanjikan akhir-akhir ini.

Federal Open Market Committee (FMOC) menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran yang ditargetkan antara 4,25% dan 4,5%. Kenaikan itu menghentikan empat kenaikan 75 Bps berturut-turut, langkah kebijakan paling agresif sejak awal 1980-an.

Bersamaan dengan kenaikan tersebut, muncul indikasi bahwa para pejabat berharap untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi hingga tahun depan, tanpa pengurangan hingga 2024. ‘Terminal rate’ atau titik di mana para pejabat berharap untuk mengakhiri kenaikan suku bunga, ditetapkan pada 5,1%, menurut ‘dot plot’ FOMC tentang harapan masing-masing anggota.