Google Maps Kini Bisa Tampilkan Lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik

Google Maps mengumumkan telah memperluas cakupan informasi mengenai stasiun pengisian kendaraan listrik. Sebelumnya, fitur ini dikembangkan di Amerika Serikat dan Britania Raya selama tiga tahun terakhir.

Kini, seperti dikutip dari GSM Arena, fitur tersebut telah diperluas kehadirannya di lebih banyak negara yang memiliki stasiun pengisian kendaraan listrik.

Fitur ini juga sudah tersedia di Indonesia. Untuk melakukan pencarian, pengguna tinggal melakukan penelusuran dengan kata kunci EV charging stations.

Nantinya, Google Maps akan menampilkan daftar stasiun pengisian kendaraan listrik yang berada di sekitar lokasi pengguna. Fitur ini turut dibekali dengan filter yang memudahkan pencarian sesuai dengan preferensi pengguna.

Dengan filter tersebut, pengguna dapat menyortir stasiun pengisian kendaraan listrik berdasarkan kecepatan pengisian dayanya dan tipe pengisian. Informasi tersebut juga akan ditampilkan dalam hasil pencarian.

Pada beberapa negara, fitur ini juga akan menampilkan informasi apakah stasiun pengisian kendaraan listrik tersebut gratis. Fitur ini sekarang sudah tersedia untuk Google Maps di Android dan iOS.

Sebagai informasi, fitur ini merupakan salah satu pembaruan yang dihadirkan Google menjelang masa libur di akhir tahun. Fitur lain yang juga dirilis adalah informasi mengenai tempat-tempat yang memiliki akses kursi roda atau tanpa tangga.

Selain itu, Google Maps juga menghadirkan dukungan pencarian berbasis Live View. Namun untuk sekarang, fitur ini baru tersedia di London, Los Angeles, New York, Paris, San Francisco and Tokyo, serta bisa diakses melalui Android and iOS.

Google Maps Hapus Layer Informasi Kasus Covid-19 di Aplikasi

Di sisi lain, dengan situasi pandemi Covid-19 yang dinilai sudah lebih baik, Google Maps rupanya telah menghapus layer dari aplikasinya, yang menunjukkan hotspot atau “titik panas” dari penyebaran Covid-19.

Layer atau lapisan Covid-19 sendiri sebelumnya dihadirkan Google di Maps pada tahun 2020 untuk aplikasi seluler dan web, yang menunjukkan tren Covid-19 di suatu daerah.

Mengutip 9to5Google, Kamis (27/10/2022), lapisan ini menarik rata-rata tujuh hari kasus Covid-19 di area tertentu, untuk menunjukkan di mana virus tersebut menyebar lebih cepat.

Fitur ini dengan cepat dirilis secara global di semua negara yang bisa mengakses Google Maps, begitu pula dengan di tempat yang datanya rendah apabila tersedia.

Dengan lapisan ini, area peta akan diberi kode warna berdasarkan rasio kasus dan label yang memperlihatkan apakah kasus naik atau turun.

“Lapisan COVID ini dirancang untuk menginformasikan kepada pengguna yang ingin bepergian ke suatu tempat, sehingga mereka bisa mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan,” kata Project Manager Google Maps Sujoy Banerjee saat itu.

Namun di bulan September 2022, Google tanpa pengumuman yang jelas menghapus fitur ini. Meski beberapa waktu lalu, perusahaan akhirnya mengonfirmasi tentang dihilangkannya layer ini di laman dukungan resminya.

Google menyebut, alasan utama dihilangkannya fitur ini adalah menurunnya penggunaan, di samping tersedianya vaksin Covid-19 yang lebih luas dan sumber daya lainnya.

Kebutuhan Akan Informasi Berubah

Google mengatakan, lapisan Covid-19 dirilis di 2020 dengan tujuan untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi tentang penyebaran kasus Covid-19 di suatu area.

“Seiring waktu, karena orang-orang di seluruh dunia sekarang lebih mudah mendapatkan informasi tentang vaksin COVID-19, tempat tes, dan referensi lainnya, kebutuhan mereka akan informasi ini juga mengalami perubahan,” ujarnya.

“Karena makin jarang digunakan, lapisan COVID-19 kini tidak tersedia lagi di Google Maps untuk seluler dan web mulai September 2022,” kata Google dalam pengumuman tersebut.

Namun, Google menegaskan pengguna masih bisa menemukan informasi terbaru tentang COVID-19, seperti varian, vaksinasi, hasil tes, tindakan pencegahan, dan lainnya di Google Search.

Pengguna juga masih dapat menemukan tempat seperti tempat tes dan pusat vaksin Covid-19 di Maps.

Google Matikan Fitur Assistant Driving Mode

Sebelumnya, Google mematikan fitur dasbor Assistant Driving Mode. Fitur ini diumumkan Google di konferensi I/O 2019, dipamerkan pada tahun 2020, dan akhirnya diluncurkan secara resmi pada 2021.

Kepada 9to5Google, Google mengatakan terpaksa mematikan Assistant Driving Mode karena menyadari bahwa kebanyakan orang hanya menggunakan versi Maps saat mengemudi.

Mengutip Engadget, fitur ini memberi pengguna pengalaman Android Auto-lite di smartphone mereka saat mengemudi, dan secara efektif menggantikan aplikasi ponsel pintar Android Auto, yang dimatikan tahun lalu.

Assistant Driving Mode menampilkan halaman bergaya layar utama dengan Google Assistant di bagian atas, pemutar musik, dan kontrol volume di bawahnya, serta tombol untuk melakukan panggilan atau mengirim pesan.

Fitur yang ramah pengemudi ini dapat diakses dari Assistant dengan mengucapkan “Hai Google, luncurkan Mode Mengemudi,” atau disematkan ke layar utama smartphone kamu.