Nasib Aset Kripto di 2023 Saat Dunia Terancam Resesi Global

Dunia terancam resesi global pada 2023 yang juga berdampak pada seluruh pasar keuangan, tak terkecuali aset kripto.

Diketahui, pada 2023, suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan tetap tinggi guna melawan inflasi. Selain itu, mayoritas ekonom bahkan sepakat kemungkinan Amerika Serikat (AS) dan global pada 2023 akan mengalami resesi yang berdampak pada seluruh pasar keuangan.

The Fed diketahui akan tetap mempertahankan suku bunga pada angka tinggi pada 2023. Wall Street dan pasar merespons pesimistis pada paruh kedua tahun 2023 penurun suka bunga tidak akan terjadi karena diperkirakan kemungkinan resesi sangat tinggi.

Berdasarkan sinyal The Fed, diperkirakan tingkat suku bunga pada awal 2023 berada di kisaran 5%. Pada pertemuan Desember 2022, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps), dan diikuti oleh dua kenaikan 25 bps pada 2023.

Proyeksi akan terjadinya resesi juga diprediksi oleh ekonom berdasarkan survei dari Bloomberg News pada 2-7 Desember 2022. Konsensus yang berkembang dari ekonom adalah 81% setuju akan adanya kemungkinan resesi di Amerika Serikat, sementara 76% dari mereka memperkirakan resesi global akan terjadi dan tentunya akan berdampak juga pada pasar keuangan seperti kripto.

Terkait hal ini, Chief Marketing Officer Pintu Timothius Martin mengatakan, selama sepekan terakhir, Bitcoin (BTC) masih berada dalam pola bullish flag pada grafik harian maupun mingguan.

“Sedangkan untuk titik resistensi berada di US$ 18.200 dan titik support pada US$ 16.700 dan diperkirakan Bitcoin masih bergerak sideways,” ungkap Timothius dalam keterangan pers.

Menurut Timothius, potensi resesi ekonomi bagi Amerika Serikat dapat menjadi faktor esensial terhadap pasar kripto dan perekonomian dunia.

“Segala kemungkinan masih dapat terjadi dan investor perlu mempertimbangkan berbagai sentimen yang terjadi di pasar secara keseluruhan dan mengatur strategi investasi yang tepat,” tutup Timothius.