Nigeria & Rwanda Jadi Negara Afrika Pertama Jalin Perjanjian Antariksa

Nigeria dan Rwanda menjadi negara Afrika pertama yang menandatangani perjanjian antariksa dengan Amerika Serikat (AS). Perjanjian bernama Artemis Accords itu diteken di sela-sela perhelatan US-Africa Leaders Summit di Washington.

Menteri Komunikasi dan Ekonomi Digital Nigeria Isa Ali Ibrahim serta CEO Badan Antariksa Rwanda Francis Ngabo menjadi perwakilan pemerintahan kedua negara yang menandatangani Artemis Accords. Artemis Accords merupakan perpanjangan dari NASA’s 1967 Outer Space Treaty yang ditandatangani 23 negara sejak diinisiasi pada 2020.

Dalam US-Africa Leaders Summit, eksplorasi damai dan penggunaan luar angkasa menjadi salah satu isu yang dibahas para peserta.

“Forum tersebut menyoroti kemitraan dan kerja sama luar angkasa AS-Afrika untuk mengatasi tantangan dan peluang abad ke-21, termasuk menanggapi iklim, keanekaragaman hayati, dan krisis pangan global; mempromosikan perilaku bertanggung jawab di luar angkasa; dan memperkuat kerja sama ruang angkasa ilmiah serta komersial AS-Afrika,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, dikutip Anadolu Agency.

US-Africa Leaders Summit diagendakan digelar selama tiga hari. Sebelum konferensi tingkat tinggi itu dimulai, AS telah mengumumkan rencana mengucurkan dana bantuan sebesar 55 miliar dolar untuk Afrika dalam tiga tahun ke depan. Dana tersebut bakal dialokasikan ke sektor ekonomi, kesehatan, dan keamanan.

“Bekerja sama dengan Kongres, AS akan berkomitmen 55 miliar dolar AS untuk Afrika selama tiga tahun ke depan di berbagai sektor untuk mengatasi tantangan inti di zaman kita,” kata Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan kepada awak media.

Sullivan enggan menjelaskan secara terperinci tentang pengalokasian dana bantuan tersebut. Sullivan menjelaskan, tema panduan US-Africa Leaders Summit adalah Agenda 2063 Uni Afrika, yakni kerangka pembangunan sosial-ekonomi berkelanjutan di benua tersebut. “Seluruh sesi substantif pertama yang akan dipimpin presiden di KTT ada di Agenda 2063,” ucap Sullivan.

Dia menekankan bahwa US-Africa Leaders Summit tidak akan berisi tentang negara lain. Sullivan meyakinkan bahwa KTT tersebut tidak akan mencoba membandingkan dan membedakan. “Konferensi ini akan menjadi tentang apa yang bisa kami tawarkan. Ini akan menjadi proposisi positif tentang AS, kemitraannya dengan Afrika. Kami membawa sumber daya ke meja dalam jumlah signifikan,” katanya.

Sullivan mengungkapkan, saat KTT berlangsung, AS akan memberitahu para pemimpin Afrika yang hadir bahwa Washington mendukung penambahan negara Afrika ke anggota tetap Dewan Keamanan PBB. AS pun bakal mengundang Uni Afrika untuk bergabung dengan kelompok G20.