Semenjak Apartheid Ditiadakan dari Afrika Selatan

APARTHEID merupakan cara segregasi rasial yang secara diaplikasikan di Afrika Selatan dari tahun 1948 hingga awal 1990-an. Kebijakan ini didesain untuk mempertahankan dominasi orang kulit putih di negara yang mayoritas penduduknya berkulit hitam itu.

Cara politik itu melibatkan pengklasifikasian penduduk menurut ras, dan menurut klasifikasi ini, akses kepada pendidikan, pekerjaan, dan fasilitas publik seperti transportasi dan perumahan diatur secara ketat.

Proses untuk mengakhiri cara apartheid diawali pada awal 1990-an. Diskusi itu diinisiasi di tengah meningkatnya tekanan internasional dan kekerasan domestik yang eskalatif.

Pemilihan awam pada April 1994 menandai usainya secara resmi era apartheid. Untuk pertama kalinya, segala warga Afrika Selatan, tanpa mengamati ras, diberikan hak untuk memilih dalam pemilihan yang bebas dan adil. Nelson Mandela terpilih sebagai Presiden pertama Afrika Selatan pasca-apartheid, memimpin pemerintahan persatuan nasional yang juga melibatkan FW de Klerk sebagai salah satu Wakil Presiden.

Semenjak itu, secara peraturan dan politik banyak hal berubah di Afrika Selatan, di mana masyarakat dari segala ras sekarang bebas dan sepadan di mata peraturan. Siapa malah secara teknis dapat tinggal, bekerja, dan belajar di mana saja, dan orang bebas berinteraksi dan menikah tanpa membedakan warna kulit.

Warga kulit hitam Afrika Selatan telah memerintah secara demokratis via Partai African National Congress (ANC) selama 30 tahun terakhir, dibandingkan dengan masa apartheid dikala warga kulit hitam dilarang malah untuk memilih dalam pemlihan awam.

Melainkan, padahal terdapat kemajuan yang signifikan, warisan apartheid masih tetap terasa secara ekonomi dan spasial atau ruang, yang menjadikan Afrika Selatan sebagai salah satu negara yang paling tak sepadan di dunia.

Ekonomi

Walaupun perekonomian Afrika Selatan tumbuh semenjak slot depo 10k usainya era apartheid dan hukuman internasional, rumah-rumah tangga warga kulit hitam di Afrika Selatan cuma mendapatkan beberapa kecil dari pendapatan tersebut. Berdasarkan data Bank Dunia, pada dekade pertama sesudah apartheid, produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan yang dipimpin ANC meningkat dari 153 miliar dolar AS tahun 1994 menjadi 458 miliar dolar tahun 2011.

Melainkan menurut para peneliti Harvard, imbas korupsi dan inefisiensi pemerintah mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melambat, dengan utang bruto meningkat dari 23,6 persen dari PDB pada tahun 2008 menjadi 71,1 persen pada tahun 2022.

Berdasarkan para pakar itu, kwalitas infrastruktur secara awam menurun, beberapa disebabkan oleh ambrolnya cara ketenagalistrikan bertenaga batu bara yang menyediakan listrik murah untuk produksi. Semua itu memperburuk kesenjangan historis yang dihadapi komunitas kulit hitam.

“ jaringan tak terawat sehingga sekarang kerusakan menyebar (malah) ke wilayah-wilayah yang tak awam terjadi,” kata Simpson dari Universitas Pretoria, mengacu pada pemadaman listrik dan aliran air yang macet yang kerap kali terjadi terjadi di Afrika Selatan. “Semua ini pertama-tama berakibat pada masyarakat miskin,” tambah dia.

Tahun 2022, Bank Dunia mengelompokkan Afrika Selatan sebagai negara yang paling tak sepadan di dunia, dan mencantumkan persoalan rasial (warisan apartheid), ketiaadan kelas menengah, dan kepemilikan tanah yang benar-benar tak sepadan, sebagai penyebab utamanya. Sekitar 10 persen penduduk menguasai 80 persen kekayaan, kata laporan tersebut.