Departemen Kehakiman AS Blokir Dua Perusahaan Senjata Api

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengatakan, telah memperoleh perintah pengadilan untuk memblokir dua perusahaan senjata api. Penutupan ini karena perusahaan itu membahayakan keselamatan publik dengan secara ilegal menjual perangkat dan mengubah senapan AR-15 menjadi senapan mesin.

Hakim Distrik AS Nina Morrison di Brooklyn, mengeluarkan perintah penahanan sementara terhadap Rare Breed Triggers LLC dan Rare Breed Firearms LLC. Perintah itu juga berlaku untuk pemilik perusahan Lawrence DeMonico dan Kevin Maxwell.

Departemen Kehakiman dalam pengaduan perdata mengatakan, Rare Breed telah menjual ribuan perangkat yang dikenal sebagai FRT-15 yang dirancang dan dimaksudkan untuk mengubah senjata api semi-otomatis AR-15 menjadi senapan mesin. Artinya perangkat tersebut memenuhi syarat sebagai senapan mesin di bawah undang-undang federal.

Menurut Departemen judi bola Kehakiman, perangkat tersebut tidak memenuhi syarat untuk pengecualian terbatas yang mengizinkan penjualannya. Pemblokiran ini juga akibat penjualan Rare Breed dari Wide Open Triggers, salinan FRT-15 juga dirancang agar sesuai dengan senapan AR-15.

Departemen Kehakiman mengatakan, Rare Breed tidak mematuhi permintaan Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) untuk berhenti menjual kedua produk tersebut. Rare Breed beroperasi di Fargo, North Dakota, dan, menurut dokumen pengadilan, Maxwell juga merupakan penasihat umumnya.

Senapan gaya AR-15 telah digunakan dalam banyak penembakan massal baru-baru ini. Jaksa Agung Merrick Garland mengatakan, Departemen Kehakiman akan melakukan segala daya untuk melindungi warga AS dari kekerasan senjata dan meminta pertanggungjawaban pelaku yang membanjiri negara itu dengan senjata ilegal.

Kasus ini merupakan bagian dari Civil Initiative to Reduce Gun Violence yang diluncurkan tahun lalu oleh Jaksa Penuntut Breon Peace di Brooklyn. Upaya ini untuk mengatasi penyebab dan mengurangi kejahatan terkait senjata.

Respons Ancaman China, AS Tingkatkan Kehadiran Militer di Australia

Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan kehadiran rotasi pasukan darat, laut, dan udara di Australia. Washington pun bakal mengerahkan pesawat pengebom dan jet tempur ke Negeri Kanguru. Langkah itu diambil di tengah kekhawatiran AS tentang potensi ancaman China di kawasan.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengungkapkan, negaranya dan Australia setuju untuk mengundang Jepang bergabung dalam inisiatif postur kekuatan di Negeri Kanguru. “AS dan Australia berbagi visi tentang kawasan di mana negara-negara dapat menentukan masa depan mereka sendiri,” kata Austin dalam konferensi pers seusai menghadiri The Australia-United States Ministerial Consultation.

Namun Austin menilai, visi yang disinggungnya kini mendapat tantangan dari China. “Tindakan berbahaya dan koersif China di seluruh Indo-Pasifik, termasuk di sekitar Taiwan, dan terhadap negara-negara Kepulauan Pasifik serta di Laut China Timur dan Selatan, mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan,” ujarnya.

Dia tak mengungkap kapan akan ada peningkatan rotasi pasukan di Australia. Austin pun belum menyinggung berapa banyak pasukan, kapal perang, dan pesawat tempur yang bakal dilibatkan dalam inisiatif postur keamanan tersebut.

Sementara itu Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan, perjanjian yang dijalin negaranya dengan AS akan menghasilkan peningkatan aktivitas antara kedua negara di semua domain, termasuk dalam hal kerja sama postur keamanan.

“Sangat penting kami melakukan ini dari sudut pandang memberikan keseimbangan di kawasan kami dan melibatkan negara lain di kawasan kami,” ucapnya.

Dia pun menyampaikan, AS dan Australia telah mengambil langkah-langkah untuk menciptakan basis industri pertahanan yang lebih mulus. Menurut Marles, Australia dan AS mereka juga perlu bekerja sama lebih erat guna meningkatkan kemampuan militer mereka dan mengembangkan teknologi baru.

Marles mengungkapkan, dia dan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong berencana bertolak ke Tokyo, Jepang, pekan ini. Mereka akan mengadakan pertemuan 2+2 dengan menteri pertahanan dan menteri luar negeri Negeri Sakura. “Dengan undangan bagi Jepang untuk berpartisipasi dalam lebih banyak latihan dengan Australia dan AS,” ujarnya.

China adalah mitra dagang terbesar Australia. Negeri Tirai Bambu merupakan pasar teratas untuk ekspor bijih besi Canberra. Namun Australia memiliki kekhawatiran yang terus beranjak terkait ambisi militer China di kawasan Indo-Pasifik, terutama setelah Beijing mencapai pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden China Xi Jinping sempat melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT G20 di Bali, 15 November lalu. Pertemuan mereka dipandang sebagai langkah menuju normalisasi hubungan. Namun diplomat-diplomat Australia mengatakan hal itu tidak akan membawa perubahan dalam kebijakan pertahanan Canberra.

Keterlibatan AS yang Kian Dalam di Ukraina Bawa Konsekuensi Mengerikan

Pemerintah Rusia kembali memperingatkan Amerika Serikat (AS) tentang keterlibatannya dalam konflik di Ukraina. Moskow mengatakan, jika Washington terlibat semakin dalam, hal itu akan menimbulkan risiko dan konsekuensi serius.

“Kami mengirimkan sinyal kepada Amerika bahwa garis eskalasi dan keterlibatan mereka yang semakin dalam dalam konflik ini penuh dengan konsekuensi yang mengerikan. Risikonya meningkat,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, dilaporkan kantor berita Interfax.

Ryabkov tak menjelaskan konsekuensi mengerikan semacam apa yang dimaksud. Dia mengungkapkan, saat ini tidak ada dialog yang terjalin antara Rusia dan AS. “Kami tidak melakukan dialog dengan AS mengenai topik Ukraina karena posisi kita sangat berbeda,” ucapnya.

Kendati demikian, Ryabkov menyebut, kedua negara bertukar “sinyal” secara terbuka. Sementara itu, pada Selasa lalu, para menteri luar negeri (menlu) anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berjanji meningkatkan dukungan ke Ukraina, termasuk memperbaiki infrastruktur energi milik negara tersebut yang rusak atau hancur akibat serangan Rusia.

“Agresi Rusia, termasuk serangannya yang terus-menerus dan tidak masuk akal terhadap warga sipil Ukraina dan infrastruktur energi, merampas jutaan warga Ukraina dari layanan dasar manusia,” kata para menlu anggota NATO dalam sebuah pernyataan bersama setelah melangsungkan pertemuan di Bukares, Rumania.

Mereka mengutuk kekejaman Rusia terhadap warga sipil Ukraina. “Kami akan melanjutkan serta meningkatkan dukungan politik dan praktis ke Ukraina karena terus mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya. Dan (kami) akan mempertahankan dukungan kami selama diperlukan,” kata mereka.

Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung selama sembilan bulan. Hingga kini, baik Moskow maupun Kiev, belum memperlihatkan keinginan untuk duduk di meja perundingan.

AS Prediksi China Miliki 1.500 Hulu Ledak Nuklir pada 2035

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memprediksi China akan memiliki 1.500 hulu ledak nuklir pada 2035. Washington memperkirakan, saat ini Negeri Tirai Bambu sudah memiliki lebih dari 400 hulu ledak nuklir.

“Departemen Pertahanan memperkirakan persediaan hulu ledak nuklir operasional (China) telah melampaui 400. Jika China melanjutkan laju ekspansi nuklirnya, kemungkinan akan memiliki persediaan sekitar 1.500 hulu ledak pada 2035,” kata Pentagon.

Menurut laporan itu, China juga disebut tengah berusaha memodernisasi rudal balistiknya yang dapat mengirimkan senjata nuklir. Pentagon mengatakan, sepanjang 2021 lalu, China melakukan 135 kali pengujian rudal. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan uji coba rudal yang dilakukan berbagai negara.

Pentagon berpendapat, angkatan udara China membuat kemajuan untuk menyamakan kemampuannya dengan angkatan udara Barat. Sebelum laporan Pentagon dirilis, seorang pejabat senior Departemen Pertahanan AS mengatakan, angkatan udara berusaha maju di semua lini atau aspek, mulai dari peralatan yang dioperasikan, hingga kemampuan pilot dan personel lainnya.

Bulan lalu Pentagon telah merilis pernyataan tentang strategi keseluruhannya yang dikenal dengan istilah National Defense Strategy. Di dalamnya, mereka menempatkan Rusia dan China sebagai ancaman utama kepentingan nasional AS.

“(China) menghadirkan tantangan yang paling konsekuensial dan sistemik, sementara Rusia menimbulkan ancaman akut, baik untuk kepentingan nasional AS yang vital di luar negeri maupun di dalam negeri,” demikian bunyi pernyataan di dalam National Defense Strategy yang dirilis 27 Oktober lalu.

Menurut Pentagon, tantangan paling komprehensif serta serius terhadap keamanan nasional AS adalah upaya paksa dan agresif China untuk membentuk kembali kawasan Indo-Pasifik. Beijing pun dinilai berusaha membangun ulang sistem internasional agar sesuai dengan kepentingan dan preferensi otoriternya.

Dalam National Defense Strategy, AS menyoroti retorika China atas Taiwan sebagai faktor destabilisasi yang berisiko salah perhitungan dan mengancam perdamaian di daerah tersebut. China diketahui telah berulang kali menyatakan akan mengambil alih kendali atas Taiwan. Namun Taipei sudah sering pula menegaskan bahwa mereka menolak tunduk pada Beijing.

Sementara ancaman Rusia disebut telah terlihat dari keputusannya menyerang Ukraina. AS menilai agresi Moskow ke negara tersebut “tak beralasan”. “Departemen (Pertahanan AS) akan mendukung pencegahan yang kuat dari agresi Rusia terhadap kepentingan nasional AS yang vital, termasuk perjanjian Sekutu kami,” katanya dalam National Defense Strategy.

AS menekankan perlunya kolaborasi dengan negara-negara sekutu dan mitra lainnya untuk melawan bahaya yang ditimbulkan oleh China dan Rusia. Menurut Washington kerja sama semacam itu merupakan “dasar bagi kepentingan keamanan nasional AS”.

AS Akan Tanam Rp12,27 T untuk Transportasi Sadar Iklim RI

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden princess starlight mengungkapkan rencana investasi sebesar US$798 juta atau setara Rp12,27 triliun (asumsi kurs Rp15.555 per dolar AS) di Indonesia .

Ia mengatakan investasi tersebut dilakukan untuk membangun infrastruktur transportasi sadar iklim di RI. Investasi itu juga bertujuan untuk mendukung tujuan pembangunan di Indonesia.

“Kami juga berencana untuk menginvestasikan US$798 juta melalui New Millennium challenge Corporation untuk Indonesia yang akan membangun transportasi yang tahan iklim dan mendukung tujuan pembangunan Indonesia,” ujarnya dalam KTT G20, di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11).

Sebelumnya Biden juga mengumumkan besaran investasi di Indonesia, termasuk perjanjian US$2,5 miliar atau setara Rp38,82 triliun (asumsi kurs Rp15.529 per dolar AS) antara ExxonMobil dengan Pertamina.

Kerja sama ini bakal membuat sektor-sektor di industri utama melakukan dekarbonisasi. Beberapa sektor tersebut antara lain, penyulingan, bahan kimia, semen, dan baja.

Penurunan emisi karbon dalam investasi AS ini juga diklaim bakal memastikan peluang ekonomi bagi para pekerja Indonesia serta membantu cita-cita RI mencapai net-zero emisi pada 2060 atau bahkan lebih cepat.

Studi bersama yang dilakukan Pertamina dan ExxonMobil ini dilaporkan telah menemukan potensi kapasitas penyimpanan karbon sebesar 1 miliar ton di ladang minyak dan gas milik Pertamina. Kawasan itu disebut bisa menyimpan emisi RI secara permanen selama 16 tahun ke depan.