Belanja Produk Dalam Negeri, PLN Habiskan Rp 200 Triliun

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan, PLN mengalokasikan belanja setiap tahun sekitar Rp 300 triliun. Dari anggaran tersebut, sejumlah Rp 200 triliun digunakan untuk belanja produk dalam negeri.

Hal itu disampaikan Darmawan dalam acara PLN Locomotion 2022. Acara ini dihadiri langsung Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dan para pengusaha dalam negeri.

“Kami spending per tahun Rp 300 triliun, Rp 200 triliun di-spending-nya untuk industri dalam negeri. Berapa juta orang pegawai, pekerja yang hidup dalam ekosistem ini, lebih dari 4 juta pekerja,” kata Darmawan.

Darmawan bercerita saat dilanda pandemi dua tahun terakhir, banyak pemasok komponen PLN mengalami penurunan order. Namun, saat ini seiring meningkatnya aktivitas ekonomi permintaan sudah mengalami kenaikan.

Menurut Darmawan, selama pandemi banyak negara mengalami kesulitan ekonomi seiring melambatnya kegiatan ekonomi. Namun, kondisi ini tidak dialami Indonesia karena ekonomi saat ini semakin solid.

“Di tengah ketidakpastian global yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2022 mencapai 5,72%. Boro-boro kita semakin mundur, dengan adanya Covid-19 ini kita semakin maju,” ungkapnya.

Daramawan menambahkan, tantangan yang dihadapi PLN yakni disaat ada komponen yang belum bisa diproduksi dalam negeri, maka terpaksa harus mengimpor.

Mencermati kondisi tersebut, lanjut dia, PLN terus mendorong peningkatan kapasitas manufaktur dalam negeri.

“Begitu sudah terbangun manufacturing capacity di dalam negeri, maka dalam lelangnya, komponen yang harus diimpor dengan terpaksa kami remove. Kami menekankan kekuatan dalam negeri. Kalau sudah bisa terjadi maka kami meningkatkan dengan adanya passing grade yang tadinya 25% bisa 45%, lalu 50% dan seterusnya,” tutur Darmawan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengapresiasi langkah PLN yang sudah membelanjakan Rp 200 triliun setiap tahunnya untuk belanja produk dalam negeri.

“Belanja dalam negeri, ini penting karena program TKDN bahasa lainnya program substitusi impor. Kebijakan ini memiliki dua tujuan yakni membangun industri orientasi ekspor hasilkan devisa dan dengan subtistusi impor maka dapat hemat devisa,” pungkasnya.

Dengan demikian, pemerintah bertekad mendorong produksi nasional untuk bisa mendukung penyediaan infrastruktur kelistrikan karena semua butuh mesin, peralatan, perlengkapan.

“Apalagi PLN juga lakukan transisi energi akan bentuk banyak perubahan sektor ketenagalistrikan. jadi sudah tepat dirjen EBT jadi ujung tombak transisi energi Indonesia,” tegasnya.