Turki Terus Dorong Rusia dan Ukraina Akhiri Perang

Turki terus berbicara dengan pihak Rusia dan Ukraina guna mengakhiri perang mereka, yang sebentar lagi akan segera memasuki bulan ke-10, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Kami bersama-sama menyaksikan kesepakatan biji-bijian di Laut Hitam dan pertukaran tahanan, merupakan jalan menuju perdamaian dapat dibuka jika diplomasi diberi kesempatan,” kata Erdogan pada pertemuan puncak trilateral antara Turki, Azerbaijan, dan Turkmenistan.

“Kami melanjutkan pembicaraan kami dengan (Presiden Rusia Vladimir) Putin dan (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskyy terkait hal ini. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kami akan mencapai gencatan senjata dan kemudian perdamaian abadi di wilayah kami,” ucap Presiden.

“Sebagai presiden Turki, saya telah menyampaikan sejak awal bahwa perdamaian yang adil hanya dapat dibangun melalui dialog. Sejak hari pertama, kami telah melakukan upaya tulus di tingkat bilateral dan lainnya untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengakhiri konflik,” lanjut Erdogan.

Turki, yang mendapatkan apresiasi secara internasional karena peran mediatornya yang unik bagi Ukraina dan Rusia, telah berulang kali meminta Kiev dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui negosiasi.

“Saya sangat percaya bahwa hubungan kita yang diperkuat oleh ikatan persaudaraan kita akan semakin diperkuat bedasarkan kepentingan strategis kita. Kita harus mempertimbangkan peluang-peluang baru sesuai dinamika global dan regional demi kesejahteraan rakyat dan stabilitas kawasan kami,” kata Erdogan.

Erdogan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, dan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov bertemu pada Rabu di kota Awaza, Turkmenistan untuk membahas langkah-langkah memperdalam kerja sama antara ketiga negara di berbagai bidang, khususnya perdagangan, energi, dan transportasi.

Presiden Turki juga mengatakan ketiga negara itu perlu mulai bekerja mengangkut gas alam Turkmenistan ke pasar Barat.

“Kami siap bekerja sama dengan saudara-saudara Turkmenistan dan Azerbaijan kami di bidang persahabatan di Kaspia. Selain itu, kami mementingkan pengembangan perdagangan listrik timbal balik antara negara-negara kami di wilayah kami,” imbuh Erdogan.

“Dalam hal ini, kami siap mengerjakan transmisi listrik dari Turkmenistan dan Azerbaijan ke negara kami,” lanjut dia.

Erdogan juga mengatakan keanggotaan penuh Turkmenistan di Organisasi Negara Berbahasa Turkiye akan memperkuat kelompok tersebut. Sejak tahun 2021, Turkmenistan berstatus pengamat di organisasi itu.

Erdogan Optimistis Mampu Damaikan Rusia-Ukraina

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, dia tetap melanjutkan dialog dengan Rusia dan Ukraina guna mengakhiri konflik antara kedua negara tersebut. Menurutnya, peluang untuk merealisasikan hal itu masih terbuka.

“Kita menyaksikan, bersama dengan kesepakatan (koridor) gandum dan pertukaran tahanan (antara Rusia-Ukraina), bahwa jalan menuju perdamaian dapat dibuka jika diplomasi diberi kesempatan,” kata Erdogan di sela-sela pertemuan puncak trilateral bersama presiden Azerbaijan dan Turkmenistan yang digelar di kota Awaza.

Erdogan masih optimistis Turki dapat mendamaikan Moskow dan Kiev. “Kami melanjutkan pembicaraan kami dengan (Presiden Rusia Vladimir) Putin dan (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelensky ke arah ini (perdamaian). Mudah-mudahan, pertama-tama kami akan mencapai gencatan senjata dan kemudian perdamaian abadi di wilayah kami,” ucap Erdogan.

Erdogan menekankan, sejak awal konflik di Ukraina pecah, dia telah menyatakan bahwa perdamaian hanya dapat dibangun lewat dialog. “Sejak hari pertama, kami telah melakukan upaya tulus di tingkat bilateral dan lainnya untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengakhiri konflik,” katanya.

Akhir pekan lalu, kantor kepresidenan Turki mengumumkan bahwa Erdogan telah melakukan percakapan via telepon dengan Putin. “Presiden Erdogan menyatakan keinginan tulusnya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina secepat mungkin,” ungkapnya.

Kendati demikian, Erdogan pun menyampaikan kepada Putin bahwa dia menolak langkah Rusia menganeksasi empat wilayah Ukraina, yakni Luhanks, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia. Erdogan menilai, tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat hukum internasional.

Kremlin mengonfirmasi percakapan yang dijalin Erdogan dengan Putin. Menurut Kremlin, Putin dan Erdogan pun sempat membahas tentang penerapan kesepakatan koridor gandum Laut Hitam atau Black Sea Grain Initiative (BSGI). “Kesepakatan itu bersifat kompleks, yang membutuhkan penghapusan hambatan pasokan yang relevan dari Rusia untuk memenuhi permintaan negara-negara paling membutuhkan,” kata Kremlin.

BSGI disepakati Rusia dan Ukraina pada 22 Juli lalu di Istanbul, Turki. PBB dan Turki menjadi pihak yang mengawasi proses penandatanganan kesepakatan tersebut. Lewat BSGI, Moskow memberi akses kepada Ukraina untuk mengekspor komoditas biji-bijiannya, termasuk gandum, dari pelabuhan-pelabuhan mereka di Laut Hitam yang kini berada di bawah kontrol pasukan Rusia. Itu menjadi kesepakatan paling signifikan yang dicapai sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari lalu.

Rusia dan Ukraina merupakan penghasil 25 persen produksi gandum dan biji-bijian dunia. Sejak konflik pecah Februari lalu, rantai pasokan gandum dari kedua negara itu terputus.

Ukraina tak dapat melakukan pengiriman karena jalur pengiriman dan pelabuhan-pelabuhan mereka berada di bawah kontrol Rusia. Sementara Moskow tak bisa mengekspor karena adanya sanksi Barat. Hal itu sempat memicu kekhawatiran bahwa dunia bakal menghadapi krisis pangan.

Erdogan Buka Peluang Bertemu Presiden Suriah Bashar al-Assad

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka peluang pertemuan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Turki diketahui telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Damaskus selama 11 tahun atau sejak Suriah didera konflik sipil.

“Itu mungkin (pertemuan dengan Assad). Tidak ada ruang untuk kebencian dalam politik. Pada akhirnya, langkah-langkah diambil dalam kondisi yang paling menguntungkan,” kata Erdogan saat ditanya seorang reporter di parlemen Turki tentang kemungkinan pertemuannya dengan Assad, Rabu (23/11/2022), dikutip laman Al Arabiya.

Turki mengecam aksi brutal pasukan Suriah dalam menghadapi gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang menjadi cikal bakal pecahnya konflik sipil pada 2011. Ankara pun mengutuk pemerintahan Bashar al-Assad. Pada Juli 2011, pembelot dari militer Suriah membentuk Pasukan Pembebasan Suriah atau Free Syrian Army (FSA).

Tujuan FSA adalah menumbangkan pemerintahan Bashar al-Assad. Turki pada akhirnya terlibat dalam intervensi militer di Suriah dan menyokong FSA. Tak hanya melawan pasukan pemerintahan Assad, Turki dan FSA pun bekerja sama dalam memerangi ISIS serta kelompok milisi Kurdi. Salah satu kelompok Kurdi yang menjadi target operasi Turki diketahui didukung Amerika Serikat (AS).

Pada Selasa (22/11/2022) lalu, Erdogan mengatakan, negaranya akan segera menyerang kelompok militan dengan mengerahkan tank dan pasukan negaranya. Pernyataannya dinilai merupakan isyarat pengerahan kekuatan penuh untuk membombardir milisi Kurdi di Suriah.

“Kita telah menekan teroris selama beberapa hari dengan pesawat, meriam, dan senjata kita. Insya Allah, kita akan membasmi mereka semua secepat mungkin, bersama dengan tank kita, tentara kita,” kata Erdogan saat berpidato di timur laut Turki.

Sebelumnya Erdogan telah menyampaikan bahwa operasi penumpasan milisi Kurdi tidak akan terbatas pada kampanye udara dan mungkin turut melibatkan pasukan darat. Sementara itu, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar berjanji akan melanjutkan operasi melawan kelompok milisi Kurdi. Dia kembali menyerukan sekutu Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), terutama AS, agar berhenti mendukung pasukan Kurdi Suriah.

“Kami memberitahu semua mitra kami, terutama AS, di setiap tingkatan, bahwa YPG (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) sama dengan PKK (Partai Pekerja Kurdistan) dan tetap dengan permintaan kami agar mereka menghentikan setiap jenis dukungan untuk teroris,” kata Akar kepada komisi parlemen Turki.

AS memang bekerja sama dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam memerangi ISIS di Suriah. SDF dipimpin oleh YPG. Oleh sebab itu, AS telah mengutarakan keprihatinan atas operasi militer Turki yang bertujuan menumpas milisi Kurdi di Suriah. “Kami telah mendesak Turki untuk menentang operasi semacam itu, sama seperti kami telah mendesak mitra Suriah kami untuk menentang serangan atau eskalasi,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Erdogan Minta Rusia-Ukraina Duduk Semeja usai Rudal Hantam Polandia

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, ingin mempertemukan Rusia dan Ukraina usai rudal menghantam Polandia dan menewaskan dua orang pada Selasa (15/11).

“Kami ingin mempertemukan Rusia dan Ukraina di meja yang sama,” kata Erdogan di sela KTT G20 di Bali, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/11).

Dalam kesempatan itu, Erdogan juga menegaskan bahwa ia menghormati pernyataan bantahan Rusia usai rudal menghantam Polandia.

“Saya menghormati deklarasi yang dibuat Rusia soal serangan rudal di Polandia. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan,” kata Erdogan di hari kedua KTT G20 di Bali, Rabu (16/11), seperti dikutip Reuters.

Lebih lanjut, ia menduga bahwa serangan itu tak dilakukan Rusia.

“Saya pikir, ini tak ada hubungannya dengan Rusia,” kata Erdogan.

Dunia memang sedang gempar karena dua orang tewas akibat rudal menghantam daerah Polandia yang berbatasan langsung dengan Ukraina pada Senin.

Polandia mengklaim bahwa rudal itu buatan Rusia. Namun, para pemimpin Polandia menegaskan bahwa mereka belum mengantongi bukti pasti mengenai pihak mana yang menembakkan rudal tersebut.

Rusia sendiri menegaskan bahwa mereka tak menembakkan rudal ke negara yang merupakan anggota NATO tersebut.

Selama ini, Rusia memang menghindari konfrontasi langsung dengan negara anggota NATO.

NATO memegang prinsip bahwa gempuran terhadap salah satu anggota mereka merupakan serangan kepada blok itu secara keseluruhan.

Dengan demikian, NATO dapat menyerang pihak yang melakukan gempuran. Jika NATO merespons dengan menyerang Rusia, maka perang akan kian luas dan dikhawatirkan dapat memicu perang dunia.

Tak lama setelah kabar ini tersebar, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan bahwa peluncuran rudal itu belum tentu dari Rusia.

Menurut salah satu pejabat AS, berdasarkan temuan awal, rudal itu ditembakkan pasukan Ukraina untuk menghalau serangan rudal Rusia.