Eks Bos Kripto FTX Sam Bankman-Fried Ditangkap Polisi

Eks bos kripto FTX Sam Bankman-Fried ditangkap Polisi Bahama. Penangkapan dilakukan setelah jaksa penuntut AS mengajukan tuntutan pidana terhadap Bankman-Fried.

Mengutip Reuters, juru bicara kantor Kejaksaan AS di Manhattan mengonfirmasi penangkapan Bankman-Fried tersebut di Bahama. Namun, dia menolak untuk mengomentari kabar tuduhan pidana yang dilayangkan kepada eks bos kripto FTX tersebut.

“Sebagai hasil dari pemberitahuan yang diterima dan materi yang diberikan di dalamnya, Kejaksaan Agung dianggap pantas untuk meminta penangkapan SBF dan menahannya sesuai UU ekstradisi negara kita,” kata Jaksa Agung Kejaksaan Bahama Ryan Pinder.

Bankman-Fried diperkirakan memberikan kesaksian di depan US House Financial Services Committee pada hari ini, Selasa (13/12).

Sebelumnya, FTX yang berbasis di Bahama mengajukan pailit pada Jumat, 11 November lalu setelah penarikan dana besar-besaran awal pekan. Bankman-Fried juga mengajukan mundur dari jabatannya sebagai CEO FTX.

Namun, ia membantah telah melakukan transfer US$10 miliar. “Kami tidak diam-diam mentransfer. Kami memiliki pelabelan internal yang membingungkan dan salah membacanya,” terang Bankman-Fried saat itu.

Otoritas di Bahama langsung membekukan aset FTX sehari sebelum bursa kripto FTX mengajukan kebangkrutan. Mereka lantas mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Bahama untuk penunjukan likuidator sementara FTX.

Eks Bos FTX itu bisa menghadapi sejumlah tuntutan potensial, baik perdata maupun pidana. Selain itu, ia juga berpeluang menerima tuntutan pribadi dari jutaan kreditur FTX yang merugi.

Richard Levin selaku pengacara di firma hukum Nelson Mullins mengatakan ada tiga ancaman hukum berbeda dan mungkin akan dijatuhkan bersamaan terhadap Bankman-Fried.

Pertama, potensi ancaman hukuman tindakan kriminal yang dilayangkan Departemen Kehakiman AS untuk potensi pelanggaran pidana terhadap undang-undang sekuritas hingga undang-undang penipuan bank.

Kedua, di luar tuntutan pidana, Bankman-Fried berpotensi menghadapi tindakan penegakan sipil. Menurut Levin, Securities Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) bisa memproses tuntutan kerugian sipil tersebut.

“Di tingkat ketiga, ada juga banyak class action yang bisa dibawa, jadi ada beberapa tingkat paparan potensial untuk para eksekutif yang terlibat dengan FTX,” pungkasnya kepada CNBC International.

Bitvo Kanada Batalkan Kesepakatan Diakuisisi oleh FTX

Bitvo Kanada membatalkan kesepakatan untuk diakuisisi oleh FTX, bursa kripto milik Sam Bankman-Fried, yang dikabarkan bangkrut dan mengajukan pailit.

Bursa pertukaran kripto yang berbasis di Kanada itu menuturkan telah menghentikan kesepakatan untuk dibeli oleh FTX, seperti dilansir CNA, Selasa (15/11).

Bitvo Kanada juga menyampaikan bahwa perusahaannya tidak memiliki paparan materi untuk FTX atau afiliasinya.

Dalam situs resminya, Bitvo Kanada menegaskan kepada investor bahwa dana mereka aman. Operasional perdagangan, penarikan dan setoran investor akan tetap berjalan dengan mulus.

Bitvo juga menegaskan bahwa operasional mereka sesuai dengan peraturan pemerintah setempat dengan label bisnis layanan keuangan berlisensi di bawah Financial Transactions and Reports Analysis Centre of Canada (Fintrac). Bitvo juga merupakan dealer terbatas dari Administrator Sekuritas Kanada.

Sebelumnya, FTX Trading Ltd mengumumkan telah menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi Bitvo pada Juni 2022. Rencana akuisisi ini semula diperkirakan bakal selesai pada kuartal III 2022.

“Kami senang memasuki pasar Kanada dan terus memperluas jangkauan global FTX. Ekspansi kami ke Kanada adalah langkah lain dalam kerja proaktif dengan regulator mata uang kripto di berbagai wilayah geografi di seluruh dunia,” terang Bankman-Fried saat itu.

CEO Bitvo Pamela Draper sempat merespons rencana akuisisi itu dengan mengatakan senang Kanada bisa unjuk gigi di perdagangan aset digital dan membantu menyediakan akses ke FTX untuk merambah komunitas kripto di negara tersebut.

“Kami berharap dapat mengubah akses Kanada ke ekosistem aset digital sebagai bagian dari FTX,” kata Draper.

Sayang, aset FTX sudah dibekukan oleh Komisi Sekuritas Bahama pada Kamis (10/11), tepat sehari sebelum bursa kripto tersebut mengajukan kebangkrutan.

Mereka bahkan telah mendapat persetujuan pengadilan dan menunjuk dua anggota dari firma akuntansi PwC untuk mengawasi FTX Digital Markets Ltd, anak perusahaan FTX yang berlisensi di negara tersebut.

“Mengingat besarnya, urgensi, dan implikasi internasional dari peristiwa yang sedang berlangsung berkaitan dengan FTX, komisi (Sekuritas Bahama) menyadari bahwa harus dan bergerak cepat untuk lebih melindungi kepentingan klien, kreditur, dan pemangku kepentingan lain secara global,” tulis pernyataan resmi otoritas tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (15/11).

Lokasi terkini Bankman-Fried yang tinggal di Bahama juga menjadi tanda tanya. Ia disinyalir kabur ke Amerika Selatan usai isu kebangkrutan bursa kripto miliknya.

Namun, Bankman-Fried membantah rumor yang mengatakan bahwa dirinya terbang ke Argentina di tengah spekulasi yang beredar. Ia mengatakan pada Sabtu (12/11) masih berada di Bahama.

Komisi Sekuritas Bahama Bekukan Aset FTX

Komisi Sekuritas Bahama menunjuk likuidator untuk menjalankan unit FTX pada Senin (14/11). Bursa kripto milik Sam Bankman-Fried itu resmi mengajukan kebangkrutan pada Jumat (11/11).

Sebelumnya, otoritas di Bahama tersebut telah membekukan aset FTX sehari sebelum bursa kripto FTX itu mengajukan kebangkrutan. Mereka lantas mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Bahama untuk penunjukan likuidator sementara FTX.

Mereka mengatakan telah mendapat persetujuan pengadilan dan menunjuk dua anggota dari firma akuntansi PwC untuk mengawasi FTX Digital Markets Ltd, anak perusahaan FTX yang berlisensi di negara tersebut.

“Mengingat besarnya, urgensi, dan implikasi internasional dari peristiwa yang sedang berlangsung berkaitan dengan FTX, Komisi (Sekuritas Bahama) menyadari bahwa harus dan bergerak cepat untuk lebih melindungi kepentingan klien, kreditur, dan pemangku kepentingan lain secara global,” tulis pernyataan resmi otoritas tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (15/11).

Lokasi terkini Bankman-Fried yang tinggal di Bahama juga menjadi tanda tanya. Ia disinyalir kabur ke Amerika Selatan usai isu kebangkrutan bursa kripto miliknya.

Namun, Bankman-Fried membantah rumor yang mengatakan bahwa dirinya terbang ke Argentina di tengah spekulasi yang beredar. Ia mengatakan pada Sabtu (12/11) masih berada di Bahama.

Sedikitnya US$1 miliar atau setara Rp15,6 triliun dana investor ‘menguap’ dari bursa kripto FTX. Bankman-Friend diklaim diam-diam mentransfer dana investor senilai US$10 miliar ke perusahaan perdagangan Bankman-Fried Alameda Research.

Nah, sebagian besar dana itu kemudian menghilang. Satu sumber menyebut kehilangan mencapai US$1 miliar. Sementara, sumber lainnya memperkirakan kehilangan antara US$1 miliar-US$2 miliar.

Namun, Bankman-Fried membantah telah melakukan transfer US$10 miliar.

“Kami tidak diam-diam mentransfer. Kami memiliki pelabelan internal yang membingungkan dan salah membacanya,” kata Bankman-Fried.