Drone Turki Rekam Praktik Ilegal Yunani Tolak Migran Gelap di Laut

Sebuah drone milik angkatan laut Turki merekam rekaman pasukan Yunani secara ilegal mendorong kembali sebuah kapal yang membawa migran gelap ke perairan teritorial Turki, kata Kementerian Pertahanan Nasional pada Senin (2/1/2023).

Tindakan penolakan Yunani yang ilegal terjadi pada 5,82 kilometer barat daya lepas pantai Cesme di Laut Aegean pada 29 Desember, kata kementerian itu dalam sebuah cuitan.

Penjaga Pantai Turki segera dikerahkan ke lokasi dan menyelamatkan para migran gelap itu.

Otoritas Ankara dan kelompok hak asasi manusia internasional telah berulang kali mengutuk praktik ilegal Yunani yang mendorong kembali para pencari suaka, dengan mengatakan tindakan itu melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional dengan membahayakan nyawa orang-orang yang rentan, termasuk perempuan dan anak-anak.

Turki telah menjadi titik transit utama bagi para migran gelap yang ingin menyeberang ke Eropa untuk memulai hidup baru, terutama mereka yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan di negara mereka.

Negara ini sudah menampung 4 juta pengungsi, lebih banyak dari negara lain mana pun di dunia, dan mengambil langkah-langkah keamanan baru di perbatasannya untuk secara manusiawi mencegah masuknya para migran.

Turki Terus Dorong Rusia dan Ukraina Akhiri Perang

Turki terus berbicara dengan pihak Rusia dan Ukraina guna mengakhiri perang mereka, yang sebentar lagi akan segera memasuki bulan ke-10, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Kami bersama-sama menyaksikan kesepakatan biji-bijian di Laut Hitam dan pertukaran tahanan, merupakan jalan menuju perdamaian dapat dibuka jika diplomasi diberi kesempatan,” kata Erdogan pada pertemuan puncak trilateral antara Turki, Azerbaijan, dan Turkmenistan.

“Kami melanjutkan pembicaraan kami dengan (Presiden Rusia Vladimir) Putin dan (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskyy terkait hal ini. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kami akan mencapai gencatan senjata dan kemudian perdamaian abadi di wilayah kami,” ucap Presiden.

“Sebagai presiden Turki, saya telah menyampaikan sejak awal bahwa perdamaian yang adil hanya dapat dibangun melalui dialog. Sejak hari pertama, kami telah melakukan upaya tulus di tingkat bilateral dan lainnya untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengakhiri konflik,” lanjut Erdogan.

Turki, yang mendapatkan apresiasi secara internasional karena peran mediatornya yang unik bagi Ukraina dan Rusia, telah berulang kali meminta Kiev dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui negosiasi.

“Saya sangat percaya bahwa hubungan kita yang diperkuat oleh ikatan persaudaraan kita akan semakin diperkuat bedasarkan kepentingan strategis kita. Kita harus mempertimbangkan peluang-peluang baru sesuai dinamika global dan regional demi kesejahteraan rakyat dan stabilitas kawasan kami,” kata Erdogan.

Erdogan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, dan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov bertemu pada Rabu di kota Awaza, Turkmenistan untuk membahas langkah-langkah memperdalam kerja sama antara ketiga negara di berbagai bidang, khususnya perdagangan, energi, dan transportasi.

Presiden Turki juga mengatakan ketiga negara itu perlu mulai bekerja mengangkut gas alam Turkmenistan ke pasar Barat.

“Kami siap bekerja sama dengan saudara-saudara Turkmenistan dan Azerbaijan kami di bidang persahabatan di Kaspia. Selain itu, kami mementingkan pengembangan perdagangan listrik timbal balik antara negara-negara kami di wilayah kami,” imbuh Erdogan.

“Dalam hal ini, kami siap mengerjakan transmisi listrik dari Turkmenistan dan Azerbaijan ke negara kami,” lanjut dia.

Erdogan juga mengatakan keanggotaan penuh Turkmenistan di Organisasi Negara Berbahasa Turkiye akan memperkuat kelompok tersebut. Sejak tahun 2021, Turkmenistan berstatus pengamat di organisasi itu.

Wali Kota Istanbul Divonis Bersalah atas Dakwaan Hina Pejabat Turki

Pengadilan Turki memvonis bersalah Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu dua tahun dan tujuh bulan penjara. Ia divonis bersalah atas dakwaan menghina Dewan Tinggi Pemilihan Turki.

Pengadilan juga melarang wali kota di kota terpadat Turki itu menduduki jabatan politik. Vonis ini dapat membuatnya tersingkir dari jabatannya.

Imamoglu yang berasal dari Republican People’s Party, oposisi utama pemerintah, diperkirakan akan mengajukan banding. Kritikus menilai sidang itu merupakan upaya Presiden Recep Tayyip Erdogan menyingkirkan semua oposisinya.

Turki dijadwalkan akan menggelar pemilihan presiden tahun depan. Imamoglu terpilih memimpin Istanbul pada Maret 2019.

Kemenangannya yang bersejarah menjadi pukulan keras bagi Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan yang menguasai Istanbul selama seperempat abad. Partai itu berusaha membatalkan hasil pemilihan dengan klaim kecurangan.

Upaya itu mendorong pemilihan ulang beberapa bulan kemudian tapi Imamoglu kembali memenangkannya. Imamoglu didakwa menghina pejabat senior setelah ia menggambarkan pembatalan hasil pemilu yang sah sebagai tindakan “kebodohan” pada 4 November 2019.

Wali kota itu membantah menghina anggota dewan pemilihan. Ia mengatakan kata-katanya merupakan respons dari hinaan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu yang menyebutnya “bodoh” dan menuduh Imamoglu mengkritik Turki saat berkunjung ke Parlemen Eropa.

Turki Tangkap 44 Orang yang Diduga Jadi Mata-Mata untuk Mossad Israel

Turki menangkap 44 orang atas tuduhan spionase dan bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad. Penangkapan ini sebagai bagian dari operasi khusus melawan spionase militer.

Dilaporkan Middle East Monitor, pihak berwenang Turki melakukan operasi keamanan dengan menargetkan “penyelidik swasta” yang menjadi mata-mata untuk Mossad. Mereka memantau, dan mengikuti individu Palestina, serta organisasi non-pemerintah di Turki.

Tujuh tersangka dibawa ke pengadilan setelah polisi Istanbul menyelesaikan prosedur hukum terhadap mereka. Sementara pihak berwenang di Kantor Antiterorisme menginterogasi tersangka lainnya.

Situs web Turki Ahaber melaporkan bahwa, dinas intelijen Turki bekerja sama dengan polisi Istanbul, menangkap 44 orang yang memantau individu, institusi, dan organisasi Palestina di Turki. Surat kabar itu menambahkan, mereka yang dituduh melakukan spionase menerima uang sebagai imbalan untuk mentransfer informasi tentang partai dan tokoh Palestina di Turki ke Mossad. Dinas keamanan di Turkiye masih mencari 13 orang lainnya yang diduga menjadi mata-mata Mossad.

Belum lama ini, Israel dan Turki telah resmi memulihkan hubungan diplomatik penuh. Kedua negara kembali menunjuk duta besar sebagai perwakilan masing-masing.

Pada awal Maret lalu, Erdogan menyampaikan, dia ingin menghidupkan kembali dialog politik dengan Israel. Hal itu diumumkan saat Presiden Israel Isaac Herzog melakukan kunjungan bersejarah ke Turki pada 9 Maret lalu.

“Tujuan bersama kami dengan Israel adalah untuk menghidupkan kembali dialog politik antara negara kami berdasarkan kepentingan bersama, menghormati kepekaan timbal balik,” kata Erdogan dalam konferensi pers bersama Herzog, dikutip Anadolu Agency.

Erdogan mengungkapkan, kunjungan Herzog ke Turki akan menjadi titik balik baru dalam hubungan bilateral Ankara dan Tel Aviv. Menurut dia, penguatan relasi dengan Israel penting bagi stabilitas serta perdamaian regional.

Erdogan menekankan kepada Herzog tentang pentingnya mereduksi ketegangan di kawasan, termasuk menjaga visi solusi dua negara terkait konflik dengan Palestina. “Ada di tangan kita untuk berkontribusi pada pembentukan kembali budaya perdamaian, ketenangan, dan koeksistensi di wilayah kita,” ujarnya.

Hubungan Turki dan Israel membeku setelah peristiwa penyerangan kapal Mavi Marmara pada Mei 2010. Mavi Marmara adalah satu dari enam kapal yang bertolak dari Turki untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Sebanyak 10 warga sipil Turki tewas dalam aksi penyerangan Israel ke kapal tersebut.