Rusia Ingatkan AS Agar tak Kirim Patriot ke Ukraina

Rusia memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak mengirim sistem pertahanan rudal Patriot-nya ke Ukraina. Hal itu akan meningkatkan risiko keterlibatan langsung Washington dalam perang yang sedang berlangsung.

“Banyak ahli, termasuk mereka yang berada di luar negeri, meragukan kebijaksanaan dari langkah seperti itu, yang akan mengarah pada eskalasi konflik dan meningkatkan risiko keterlibatan langsung tentara AS dalam permusuhan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah konferensi pers.

Dia mengatakan AS juga menekan negara-negara NATO lainnya untuk memberikan dukungan militer yang “lebih banyak” kepada Ukraina.

Rusia memandang semua senjata yang dipasok ke Ukraina sebagai “target militer yang sah” yang akan “dihancurkan atau direbut”, tukas Zakharova.

Turki Terus Dorong Rusia dan Ukraina Akhiri Perang

Turki terus berbicara dengan pihak Rusia dan Ukraina guna mengakhiri perang mereka, yang sebentar lagi akan segera memasuki bulan ke-10, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Kami bersama-sama menyaksikan kesepakatan biji-bijian di Laut Hitam dan pertukaran tahanan, merupakan jalan menuju perdamaian dapat dibuka jika diplomasi diberi kesempatan,” kata Erdogan pada pertemuan puncak trilateral antara Turki, Azerbaijan, dan Turkmenistan.

“Kami melanjutkan pembicaraan kami dengan (Presiden Rusia Vladimir) Putin dan (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskyy terkait hal ini. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kami akan mencapai gencatan senjata dan kemudian perdamaian abadi di wilayah kami,” ucap Presiden.

“Sebagai presiden Turki, saya telah menyampaikan sejak awal bahwa perdamaian yang adil hanya dapat dibangun melalui dialog. Sejak hari pertama, kami telah melakukan upaya tulus di tingkat bilateral dan lainnya untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengakhiri konflik,” lanjut Erdogan.

Turki, yang mendapatkan apresiasi secara internasional karena peran mediatornya yang unik bagi Ukraina dan Rusia, telah berulang kali meminta Kiev dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui negosiasi.

“Saya sangat percaya bahwa hubungan kita yang diperkuat oleh ikatan persaudaraan kita akan semakin diperkuat bedasarkan kepentingan strategis kita. Kita harus mempertimbangkan peluang-peluang baru sesuai dinamika global dan regional demi kesejahteraan rakyat dan stabilitas kawasan kami,” kata Erdogan.

Erdogan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, dan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov bertemu pada Rabu di kota Awaza, Turkmenistan untuk membahas langkah-langkah memperdalam kerja sama antara ketiga negara di berbagai bidang, khususnya perdagangan, energi, dan transportasi.

Presiden Turki juga mengatakan ketiga negara itu perlu mulai bekerja mengangkut gas alam Turkmenistan ke pasar Barat.

“Kami siap bekerja sama dengan saudara-saudara Turkmenistan dan Azerbaijan kami di bidang persahabatan di Kaspia. Selain itu, kami mementingkan pengembangan perdagangan listrik timbal balik antara negara-negara kami di wilayah kami,” imbuh Erdogan.

“Dalam hal ini, kami siap mengerjakan transmisi listrik dari Turkmenistan dan Azerbaijan ke negara kami,” lanjut dia.

Erdogan juga mengatakan keanggotaan penuh Turkmenistan di Organisasi Negara Berbahasa Turkiye akan memperkuat kelompok tersebut. Sejak tahun 2021, Turkmenistan berstatus pengamat di organisasi itu.

Sebuah Paket Hadiah dari Ukraina Meledak di Kantor Polisi Polandia

Kepala polisi Polandia terluka setelah hadiah yang diberikan oleh pejabat Ukraina meledak di markas besarnya di Warsawa. Jarosław Szymczyk menderita luka ringan setelah membuka hadiah tersebut di kantornya.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Polandia, paket hadiah itu meledak sekitar pukul 7.50 pagi. “Seorang pegawai sipil juga terluka ringan dalam ledakan itu,” kata kementerian tersebut dikutip laman Anadolu Agency.

Tidak ada informasi tentang isi hadiah yang dibagikan. Namun laporan lokal menyatakan itu adalah peluncur granat. Szymczyk diberi hadiah pada kunjungan baru-baru ini ke Ukraina. Polandia telah meminta penjelasan, namun Kyiv belum membuat pernyataan publik atas insiden tersebut.

Dilansir BBC, hadiah itu adalah hadiah dari salah satu kepala polisi Ukraina dan dinas darurat negara yang dikunjungi Szymczyk beberapa hari sebelumnya. Insiden itu terjadi sebulan setelah serangan rudal selama serangan oleh Rusia di Ukraina menewaskan dua orang di Polandia dekat perbatasan Ukraina.

Kepala NATO Jens Stoltenberg mengatakan rudal itu kemungkinan besar adalah pertahanan udara Ukraina. Namun kesalahan atas kematian itu terletak pada Rusia karena serangannya terhadap Ukraina. Presiden Polandia Andrzej Duda mengatakan pada saat itu bahwa kematian tersebut merupakan kecelakaan.

Listrik 7 Juta Rumah di Ukraina Padam Buntut Serangan Rudal Rusia

Lebih dari tujuh juta rumah di Ukraina gelap gulita akibat listrik padam setelah diserang rudal Rusia pada Selasa (15/11). Keterangan resmi kepresidenan mengonfirmasi hal tersebut.

“Lebih dari tujuh juta rumah sekarang mengalami putus listrik setelah 15 fasilitas energi di Ukraina rusak oleh rudal Rusia,” kata Kyrylo Tymoshenko, salah satu deputi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, seperti diberitakan AFP.

“Teknisi kami sekarang melakukan segalanya untuk menyambungkan kembali daya secepat mungkin.”

Senada, Presiden Zelensky dalam sebuah video juga mengatakan sedang berusaha memulihkan listrik setelah sekitar 85 rudal ditembakkan Rusia ke fasilitas energi Ukraina.

“Kami sedang bekerja dan akan memulihkan semuanya,” kata Zelensky.

Namun, serangan itu juga merusak fasilitas energi di Kryvyi Rih yang membuat mereka juga sulit untuk memberikan pasokan listrik.

Tak hanya itu, Moldova, yang berbatasan dengan Ukraina, juga melaporkan pemadaman listrik karena misil yang ditembakkan ke negara tetangganya tersebut. Mereka meminta Moskow “menghentikan penghancuran sekarang”.

Kondisi 7 juta rumah tanpa listrik tersebut dinilai menghilangkan kegembiraan Ukraina setelah berhasil merebut kembali kota Kherson saat para pemimpin dunia berkumpul di KTT G20.

Rusia menggempur kota-kota dan fasilitas energi di Ukraina dalam gelombang baru serangan rudal pada Selasa (15/11).

Rudal menghujani wilayah dan beberapa kota di Ukraina, seperti ibu kota Kyiv, Lviv dan Rivne di barat, Kharkiv di timur laut, Kryvyi Rih dan Poltava di tengah, Odesa di selatan dan Zhytomyr di utara.

Walikota Lviv mengatakan listrik padam di kota itu dan walikota Kharkiv Ihor Terekhov mengatakan fasilitas infrastruktur penting juga rusak di sana.

Gubernur Rivne Vitaliy Koval mengatakan telah terjadi serangan rudal tetapi melaporkan tidak ada korban di kotanya.

Beberapa pejabat pemerintahan Ukraina menilai serangan itu jadi respons Rusia atas pidato Presiden Volodymyr Zelensky di KTT G20, salah satunya adalah Kepala Staf Kepresidenan Andriy Yermak.

“Rusia menanggapi pidato kuat @Zelenskiy di #G20 dengan serangan rudal baru. Apakah ada yang benar-benar berpikir bahwa Kremlin benar-benar menginginkan perdamaian? Ia menginginkan kepatuhan. Tetapi pada akhirnya, teroris selalu kalah,” cuit Andriy Yermak.

Senada, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba juga menggambarkan serangan itu sebagai tanggapan Rusia atas seruan untuk pembicaraan damai.

“Rudal Rusia membunuh orang dan menghancurkan infrastruktur di seluruh Ukraina sekarang. Inilah yang harus dikatakan Rusia tentang masalah pembicaraan damai,” tulisnya di Twitter.

“Berhenti mengusulkan Ukraina untuk menerima ultimatum Rusia! Teror ini hanya dapat dihentikan dengan kekuatan senjata dan prinsip kami.”

Erdogan Minta Rusia-Ukraina Duduk Semeja usai Rudal Hantam Polandia

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan slot gacor 777, ingin mempertemukan Rusia dan Ukraina usai rudal menghantam Polandia dan menewaskan dua orang pada Selasa (15/11).

“Kami ingin mempertemukan Rusia dan Ukraina di meja yang sama,” kata Erdogan di sela KTT G20 di Bali, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/11).

Dalam kesempatan itu, Erdogan juga menegaskan bahwa ia menghormati pernyataan bantahan Rusia usai rudal menghantam Polandia.

“Saya menghormati deklarasi yang dibuat Rusia soal serangan rudal di Polandia. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan,” kata Erdogan di hari kedua KTT G20 di Bali, Rabu (16/11), seperti dikutip Reuters.

Lebih lanjut, ia menduga bahwa serangan itu tak dilakukan Rusia.

“Saya pikir, ini tak ada hubungannya dengan Rusia,” kata Erdogan.

Dunia memang sedang gempar karena dua orang tewas akibat rudal menghantam daerah Polandia yang berbatasan langsung dengan Ukraina pada Senin.

Polandia mengklaim bahwa rudal itu buatan Rusia. Namun, para pemimpin Polandia menegaskan bahwa mereka belum mengantongi bukti pasti mengenai pihak mana yang menembakkan rudal tersebut.

Rusia sendiri menegaskan bahwa mereka tak menembakkan rudal ke negara yang merupakan anggota NATO tersebut.

Selama ini, Rusia memang menghindari konfrontasi langsung dengan negara anggota NATO.

NATO memegang prinsip bahwa gempuran terhadap salah satu anggota mereka merupakan serangan kepada blok itu secara keseluruhan.

Dengan demikian, NATO dapat menyerang pihak yang melakukan gempuran. Jika NATO merespons dengan menyerang Rusia, maka perang akan kian luas dan dikhawatirkan dapat memicu perang dunia.

Tak lama setelah kabar ini tersebar, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan bahwa peluncuran rudal itu belum tentu dari Rusia.

Menurut salah satu pejabat AS, berdasarkan temuan awal, rudal itu ditembakkan pasukan Ukraina untuk menghalau serangan rudal Rusia.